RSS
Image

PERKEMBANGAN DAN KEMAJUAN KONSTRUKSI GEDUNG TINGGI

26 Oct
PERKEMBANGAN DAN KEMAJUAN KONSTRUKSI GEDUNG TINGGI

Sejak masa tahun 1970-an dimana stabilitas politik mulai terbentuk dan perekonomian Indonesia bertambah pesat, pembangunan gedung-gedung tinggi mulai bermunculan di Jakarta. Selain Hotel Indonesia yang dibangun Jepang sebagai kompensasi penjajahannya, bermunculan pula gedung tinggi lainnya seperti Wisma Nusantara (30 lantai), Wisma Antara, Hongkong Bank, Hotel Mandarin, Hotel Hilton, Ratu Plaza, dll. Gambar di bawah menunjukan bundaran Hotel Indonesia dengan Hotel Mandarin yang dibangun pada era ini.

Hotel-Mandarin-Jakarta

Kebanyakan gedung-gedung tinggi dibangun sepanjang poros Thamrin-Sudirman, ditunjang dengan infrastruktur Jakarta yang terus ditata ke arah yang lebih baik. Patut dicatat bahwa pada masa tersebut, gedung-gedung tinggi dibangun oleh pihak swasta dan umumnya menggunakan tenaga ahli asing yang bekerja sama dengan pihak lokal. Porsi pekerjaan pihak lokal umumnya sedikit. Hanya gedung kantor Gubernur DKI di Jl. Merdeka Selatan (24 lantai) dan Wisma Pertamina yang merupakan gedung tinggi yang dibangun pemerintah. Sejalan dengan perkembangan waktu, alih teknologi berhasil memberdayakan para ahli Indonesia di bidang dunia konstruksi. Dewasa ini para kontraktor lokal sudah menguasai pasar hampir sepenuhnya. Para ahli struktur lokal-pun berhasil mengikuti jejak tersebut. Hanya di bidang arsitektur peran asing masih dominan hingga saat ini, dan belum terlihat akan tergeserkan. Tulisan ini mengupas perkembangan dan kemajuan gedung  tingkat tinggi, mulai dari material konstruksi, sistem pondasi dan metode  pelaksanaan. Kondisi yang ada dewasa ini disoroti, termasuk sisi kelemahan yang ada yang perlu diperbaiki.

MATERIAL STRUKTUR

Ditunjang dengan tersedianya bahan dasar untuk konstruksi beton, maka kebanyakan gedung tinggi di Indonesia dibuat dengan konstruksi beton bertulang. Teknologi beton  berkembang pesat. Dari mutu K-175 sampai K-225 di masa awal, secara bertahap mutu beton komersil yang ada di pasaran meningkat menjadi 25-35 MPa dimasa tahun 1980-an. Perusahaan pemasok beton ready mix tumbuh pesat, dan ada pula yang  bekerja sama dengan pihak asing. Proyek Amartapura (52 lantai – selesai tahun 1997) memicu kebutuhan beton mutu tinggi berkinerja baik. Amartapura merupakan gedung pertama di Indonesia yang menembus angka 50 dalam jumlah lapisnya. Beton mutu tinggi diperlukan untuk mendapatkan kekakuan struktur yang baik dan dimensi kolom yang pantas. Beton 60 MPa dikembangkan sejak awal perencanaan, dipantau hasil produksinya selama beberapa saat, dan digunakan setelah mendapat kepastian mutu tersebut dapat dipasok ke lapangan secara pasti. Hasil uji sampel-sampel yang diambil menunjukkan bahwa keruntuhan benda uji silinder terjadi pada bagian cement paste, bukan pada kehancuran agregat-nya (gambar 2), hal mana menunjukkan bahwa agregat lokal (Jawa Barat) dapat digunakan untuk beton bermutu lebih tinggi lagi. Sejak saat itu, mutu beton 40 MPa – 50 MPa seringkali digunakan di pasaran.

Mutu besi beton juga berkembang, dari jenis U-22 dan U-24 (Fy=220 MPa – 240 MPa) di tahun 1970an hingga mencapai BJTS-40 (Fy=400 MPa) yang banyak digunakan di pasaran dewasa ini. Beberapa pabrik besi beton berusaha mempromosikan jenis BJTS-50 dengan tegangan leleh karakteristik senilai Fy=500 MPa, dengan menggunakan teknik quenched and tempered, hal mana menghasilkan permukaan luar besi beton yang keras dan sisi dalam yang lebih lunak. HAKI senantiasa menentang pemakaian BJTS-50 untuk elemen penahan gempa sejalan dengan larangan yang tercantum dalam peraturan konstruksi beton di Indonesia, SNI 03-2847-2002, hal mana juga diterapkan dalam ACI 318. Konstruksi baja belum umum digunakan untuk gedung tinggi di Indonesia. Pabrik baja dalam negeri hanya mampu memproduksi profil baja berukuran relatif kecil, sehingga profil-profil kompak untuk kolom harus didatangkan dari luar negeri. Keahlian para konsultan maupun kontraktor spesialis sangat terbatas. Hanya beberapa perusahaan saja yang mempunyai kemampuan melakukan perancangan struktur baja dengan baik, melakukan pendetailan sambungan, membuat shop drawing, melakukan pekerjaan fabrikasi dan pemasangan, maupun melakukan pengelasan dengan kualitas tinggi. Hal- hal di atas tadi ikut membatasi perkembangan konstruksi baja di Indonesia.

PERKEMBANGAN SISTEM PONDASI

Sejak awal pembangunan gedung tinggi, pondasi dalam dengan tiang bor sudah mendominasi konstruksi-konstruksi di Jakarta. Hal ini disebabkan oleh kondisi lapisan tanah atas yang umumnya berupa lempung lunak, yang tidak mampu menahan beban berat. Pada awal pembangunan gedung tinggi, bored pile dengan diameter 1 m dan 1.2 m seringkali digunakan. Daya dukungnya berkisar antara 250 ton-350 ton.Gedung the Tropic (selesai 1994), 24 lantai dengan 2 besmen, memulai arahan baru dalam nilai daya dukung tiang bor, dimana tiang diameter 1 m dirancang untuk mencapai daya dukung ijin 525 ton. Amartapura (52 lantai, selesai 1997) menggunakan tiang bor diameter 1.2 m dengan daya dukung ijin 750 ton. Era baru penggunaan tiang bor berdaya dukung tinggi telah sampai. Saat ini, untuk konstruksi gedung tinggi, rekor daya dukung ijin tiang bor tertinggi yang dipakai pada bangunan gedung dipegang oleh proyek Plaza Indonesia Extension, dengan tiang diameter 1.8 m dan daya dukung ijin mencapai 1500 ton. Pengujian pondasi berkapasitas besar dapat menimbulkan masalah tersendiri (loading test).

Pemakaian tiang pancang precast juga cukup populer. Jenis yang menguasai pasaran adalah jenis solid dengan pre-tension atau spun-pile yang juga menerapkan pre-tension. Kelemahan tiang jenis-jenis ini terletak pada rendahnya kapasitas tarik tiang dan masalah pelaksanaan bila gedung mempunyai basement dalam. Karena ukurannya yang relatif langsing, daya dukung lateral-nya dapat menjadi faktor penentu jumlah tiang, terutama bila tanah lapisan atas-nya cukup lunak seperti yang sering dijumpai di wilayah Jakarta Utara. Masalah sambungan kepala tiang prestress dengan pile-cap seringkali belum mendapat perhatian yang baik. Seringkali detailing konsultan perencana pada hal yang satu ini masih salah. Perlu diingat bahwa pada saat tiang dibobok, gaya pra-tegang juga juga akan hilang pada bagian terbobok tersebut. Daya dukung tiang precast ukuran 45 x 45 cm umumnya berkisar antara 100-140 ton. Untuk spun pile diameter 50 cm mencapai 125-160 ton. Pada beberapa proyek daya dukung tiang pancang dipaksakan sehingga mencapai nilai teoritis yang fantastik. Dalam hal ini konsultan perencana harus mengingat keterbatasan faktor-faktor lapangan seperti vertikalitas tiang, integritas tiang saat mengalami hard driving dan keterbatasan daya dukung lateral yang mungkin menjadi faktor penentu jumlah tiang.

KONSTRUKSI BASEMENT

Pembangunan besmen menjadi populer seiring dengan bertambahnya jumlah kendaraan dan kebutuhan parkir, mahalnya harga tanah, dan ketersediaan teknologi membuat besmen dalam. Sebelum 1990, umumnya kedalaman besmen terbatas pada satu atau dua lapis saja. Mulai tahun 1990-an, kedalaman kian bertambah hingga mencapai 6 lapis dengan dalam galian 18 m-20 m.

Untuk satu atau dua lapis besmen, apabila kondisi sekeliling mendukung, penggalian secara terbuka dapat dilakukan. Dalam hal ini, selain stabilitas lereng, perlu  dipertimbangkan pula masalah  deformasi yang terjadi dan dewatering serta pengaruhnya terhadap lingkungan sekeliling. Penggalian dengan perkuatan lereng yang menggunakan soil nailing mulai diperkenalkan pada proyek Menara BRI Iipada tahun 1994, dengan besmen sebanyak 3 lapis. Soil nailing mendapatkan sambutan terbatas, terutama setelah peristiwa keruntuhan galian di salah satu proyek di kompleks Mega Kuningan. Pembuatan besmen dengan membuat struktur penahan tanah keliling saat ini merupakan cara yang paling umum dan dapat dipertanggungjawabkan. Sebagai elemen struktur penahan tanah, seringkali dipakai soldier pile, secant pile atau diaphragm wall. Sebagai sistem penopang, ground anchors sangat populer. Sistem penopang dengan strut dari konstruksi baja jarang digunakan, mengingat biayanya yang mahal dan restriksi pekerjaan yang terjadi akibat adanya strut. Proyek Menara Tempo Scan (sedang dibangun) menerapkan sistem diaphragm wall dengan untuk galian sedalam 17 meter, sedangkan Pondok Indah Mall menggunakan sistem interlocking secant pile untuk galian sedalam 14.25 m, dimana keduanya dengan 3 lapis ground anchors sebagai tie back system. Dalam situasi dimana galian besmen berlokasi sangat dekat dengan bangunan keliling,  diperlukan sistem strut yang sangat kaku sehingga deformasi struktur penahan tanah dapat diminimalkan. Disini pelat lantai beton dapat dimanfaatkan sebagai strut, dimana metode kerjanya dibuat secara konstruksi Top-Down. Hotel Grand Mahakam dengan galian 11.75 m merupakan gedung pertama yang dibangun dengan sistem ini. Selesai dibangun tahun 1997, 3 lapis besmen-nya sebagai fasilitas parkir dibangun sangat dekat dengan batas lahan, dimana disekitar lokasi proyek berdiri rumah-rumah dua-tiga lantai dengan fundasi dangkal. Pada pembangunan kantor Bank Mega, besmen-nya berada sejarak 8 m dari gedung Trans TV yang sudah berdiri. Besmen 4 lapis ini dibangun dengan konstruksi top-down, dimana king-post sebagai kolom sementara dibuat dari concrete infill pipe, sedang kan struktur penahan tanah keliling menggunakan sistem interlocking secant pile. Sistem ini mencapai kulminasi saat diterapkan secara Up-Down pada proyek Plaza  Indonesia Extension, dimana pembangunan besmen dan struktur atas dilakukan  serempak. Saat lantai besmen ke-5 yang merupakan lapis terdalam selesai dicor, struktur atasnya sudah mencapai 10 lantai, hal mana memperpendek masa konstruksi sebanyak 11 bulan. Kedalaman galian pada proyek ini mencapai 16.5 m, dengan lokasi sangat berdekatan dengan gedung Kedutaan Jepang dan Plaza Indonesia/Grand Hyatt.

METODE KONSTRUKSI DAN KUALITAS KERJA

Kontraktor nasional yang berkecimpung di bidang gedung tinggi jumlahnya tidak banyak. Pada umumnya para kontraktor nasional ini mempunyai kemampuan untuk membangun gedung tinggi dan besmen dalam, mempunyai peralatan kerja yang baik, berpengalaman dalam menyusun skejul dan metode kerja, mengelola dan mengkoordinasi berbagai bidang yang sering kali dikerjakan sub-kontraktor yang ditunjuk pemilik, sertamampu menghasilkan kualitas yang dituntut dan dipagari oleh spesifikasi. Untukbagian struktur atas, kelemahan utama kontraktor nasional umumnya terletak padapengertian tentang detailing konstruksi beton dan tenaga tukang yang tidak dilatih untuk hal-hal teknis, serta lemahnya sistem Quality Assurance. Banyak cacat pekerjaan yang terlihat sepele, tetapi menjadi krusial karena merupakan bagian penting ketahanan struktur terhadap gempa, seperti misalnya detail kait sengkang yang tidak memadai. Demikian juga dengan posisi tulangan atas pelat yang seringkali terpasang lebih  bawah dari posisi seharusnya, hal mana tentu mengakibatkan kinerja elemen konstruksi beton tersebut berada di bawah nilai yang diharapkan dalam perancangan.  Dalam hal ini faktor kepedulian menjadi kata kunci dari hasil pekerjaan konstruksi. Untuk bagian fundasi dan struktur besmen dalam, umumnya para kontraktor nasional sangat mengandalkan kontraktor spesialis dan dokumen perancangan keluaran konsultan. Dewasa ini belum ada kontraktor nasional yang mempunyai keahlian merancang besmen dalam, yang sering kali menuntut sekwen kerja yang harus disesuaikan dengananalisa rancangan. Dengan demikian kapabilitas konsultan perancang menjadi sangat penting. Di lain pihak patut dicatat juga, belum banyak konsultan perancang nasional yang mampu memikirkan metode kerja dan sekwen pembuatan besmen dalam sampai ke detail-detailnya.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on October 26, 2014 in High Rise Building

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: