RSS

Kewajiban Memperbaiki Niat dan Mengikhlaskan Karena Allah SWT

26 Oct
Kewajiban Memperbaiki Niat dan Mengikhlaskan Karena Allah SWT

Wahai saudaraku, sebaiknya engkau memperbaiki niat, memurnikannya, menimbulkannya dan memikirkannya sebelum melakukan amal perbuatan. Ketahuialah, bahwa niat adalah asas utama dalam sebuah perbuatan dan semua amal perbuatan akan mengikutinya, baik atau buruk dan benar maupun tidaknya. Dalam hal ini, baginda Nabi Muhammad saw bersabda :

“Sesungguhnya segala perbuatan itu tergantung pada niat dan sesungguhnya  tiap-tiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan”

Sebab itulah, hendaknya engkau tidak mengucapkan satu perkataan atau melakukan perbuatan atau merencanakan seseuatu apapun, kecuali engkau sudah berniat untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan menginginkan pahalanya yang telah diatur oleh Allah swt pada perkara yang diniatkan sebagai bentuk karunia-Nya.

Ketahuilah bahwa tidak bisa mendekatkan diri kepada Allah swt, kecuali melalui apa yang Allah swt syariatkan melalui lisan Rasul-Nya dari perkara yang fardhu maupun yang sunnah. Dan terkadang niat yang sungguh-sungguh akan berpengaruh terhadap perkara yang mubah. Sehingga menjadikannya sebuah kedekatan kepada Allah SWT.

Apabila dipandang dari segi perantara, sama hukumnya dengan tujuannya. Seperti orang yang berniat dalam makannya untuk beribadah kepada Allah SWT dan ketika ia menggauli istrinya, ia berniat untuk menghasilkan keturunan baik, shaleh ataupun shalehah yang akan menyembah Allah SWT.

Sebagai syarat kesungguhan niat adalah tidak didustakan amal perbuatannya. Contohnya, seseorang yang menuntut ilmu dan ia mengaku bahwa niatnya mencari ilmu adalah untuk mengamalkannya dan mengajarkannya, maka jika ia tidak melakuakannya sedangkan ia mampu, berarti niatnya tidak benar.

Seperti halnya seorang yang mencari materi duniawi dan ia mengaku bahwa niatnya hanyalah untuk mencukupi dirinya dari meminta kepada orang lain. Serta dapat bersedekah kepada orang yang membutuhkan dan untuk menyambung tali silaturahmi, Maka, jika ia tidak mewujudkannya sedangkan ia mampu, berarti niatnya sia-sia.

Niat tidak akan menghasilkan sesuatu dalam hal kemaksiatan, sebagaimana juga bersuci tidak akan berguna jika benda najisnya masih ada. Maka apabila dijumpai seseorang yang mengumpat orang lain sedangkan ia mengaku bahwa ia bertujuan untuk menyenangkan orang lain, maka sesungguhnya ia termasuk salah satu pengumpat.

Barangsiapa yang mendiamkan amar ma’ruf dan nahi munkar sedangkan ia mengaku bahwa tujuannya mendiamkan hal ini agar tidak menyinggung perasaan orang lain yang bermaksiat, dalam hal ini ia sama-sama berdosa dengan orang itu. Karena ia telah membiarkan saudaranya bermaksiat dan menginjak-nginjak syari’at Allah SWT dan Rasul-Nya.

Jika niat yang buruk berkaitan dengan perbuatab yang baik, maka niat itu akan merusaknya dan merubahnya menjadi buruk. Contohnya adalah seseorang yang melakukan amal shaleh, tetapi niatnya  untuk memperoleh harta dan materi duniawi serta mencari ketenaran.

Saudaraku, berusahalah agar niatmu dalam beramal shaleh semata-mata murni karena Allah SWT. Dan saat engkau akan melakukan perbuatan yang mubah, maka niatkanlah sebagai penunjang untuk taat pada Allah SWT. Ketahuilah, sesungguhnya jika dalamm satu amal perbuatan terkumpul niat-niat yang banyak, maka pelakunya akan mendapatkan pahala yang sempurna dari masing-masing niat itu, tanpa berkurang pahala niat sedikitpun.

Contohnya diantara perbuatan ibadah ia berniat membaca Al-Quran dan bermunajat kepada Allah SWT. Maka dalam hal ini, si pembaca mendapatkan pahal orang yang membaca Al-Quran dan mendapatkan pahal niat bermunajat kepada Allah SWT, dan masih banyak lagi niat shaleh lainnya. Contoh dalam perkara yang mubah adalah, saat makan engkau berniat agar lebih kuat dalam melaksanakan perintah ALlah SWT. Maka makannmu oleh Allah SWT engkau diberi pahala orang yang beribadah.

Sebagaimana firman Allah SWT :

“Wahai orang – orang yang beriman, makanlah diantara kamu rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu.” (QS al-Baqarah ayat 172)

Selain engkau niatkan agar kuat dalam beribadah kepada Allah SWT, maka niatkan pula sebagai ungkapan rasa syukur dari dalam dirimu kepada Allah SWT atas rezeki berupa makanan tersebut.

Dalam hal ini, Allah berfirman :

“Makanlah olehmu rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah engkau kepada-Nya.” (QS Saba’ ayat 15)

Selanjutnya samakanlah dengan perbuatan shaleh dan mubah lainnya dan juga perbanyaklah niat yang shaleh  sebisa mungkin. Kemudian niat itu bisa diartikan salah satu dari dua makan :

Pertama, niat itu ibarat tujuanmu yang mendirongmu untuk berencana, berkata dan beramal. Niat semacam ini kebanyakannya lebih baik dari amal perbuatannya. Mengenai hal ini, baginda Nabi Muhammad bersabda :

“Niat seorang mukmin lebih baik dari perbuatannya.”

Kedua, niat itu ibarat tujuanmu melakukan sesuatu. Niat semacam ini tidak menjadi lebih baik dari amal  perbuatan tetapi dalam hal tekadnya untuk melakuakan sesuatu seorang manusia tidak terlepas dari tiga keadaan :

  1. Seorang hamba yang berusaha kemudian mewujudkannya.
  2. Seorang hamba yang tidak mewujudkannya, sedangkan ia mampu melakukannya.
  3. Seorang hamba yang berusaha melakukan sesuatu yang tidak dapat ia kerjakan hingga ia berkata, andai aku mampu melakukannya pasti akan aku kerjakan. Maka dengan niat itu, ia akan memperoleh apa yang diperoleh oleh pelakunya dan begitu juga mendapatkan hukuman yang sama dengan pelakunya.
Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on October 26, 2014 in ar-Risalatul Mua'awanah, Kitab

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: