RSS
Image

Cara-cara Memperkuat Keyakinan

26 Oct
Cara-cara Memperkuat Keyakinan

Hendaknya engkau wahai saudaraku tercinta selalu menguatkan keyakinanmu dan memperbaikinya. Karena jika keyakinan tertanan dalam hati dan menguasainya, maka hal-hal yang ghaib seakan-akan bisa disaksikan, dan saat itulah seorang yang berkeyakinan akan mengatakan sebagaimana yang pernah diucapkan oleh Sayyidinan Ali bin Abi Thalib ra : “Andaikan penghalang telah terbuka, maka keyakinanku tidak akan bertambah lagi”.

Keyakinan ibarat kekuatan iman dan keteguhannya bagaikan ombak yang besar. Tidak dapat digoncang oleh keraguan dan fikiran, bahkan keraguan dan khayalan tidak ada wujudnya sama sekali. Jika ada keraguan dari luar, maka telingan tidak akan mendengarkan dan hati tidak akan menoleh kepadanya.

Setan tidak mampu mendekatinya, bahkan akan lari darinya serta menjauh dari bayangannya. hal ini sebagaimana Baginda Nabi Muhammad SAW bersabda :

“Sesungguhnya setan menjauh dari bayangan Umar dan tidaklah Umar menempuh suatu jalan pasti setan akan menempuh jalan yang lain”

Keyakinan akan bertambah kuat dan semakin  membaik dengan beberapa sebab : Diantaranya menjadi dasar utamanya, yaitu seorang hamba mendengar dan menghayati dengan hati serta telinganya isi ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis-hadis Nabawi yang menunjukkan tentang kebesaran, pengaturan dan kekuasaan, serta tentang kebenaran para nabi dan rasul.

Kesempurnaan ajaran mereka dan juga budi bukti yang mereka miliki berupa mukjizat serta hukuman apa yang menimpa orang-orang yang mendustakan dan menentang mereka. Selain itu juga tentang pahala yang akan diperoleh oleh orang-orang yang baik dan hukuman bagi yang menentang di hari kiamat. Dan yang menjadi bukti bahwa ini dapat menambah keyakinan, adalah firman ALLAH SWT :

“Dan apakah tidak cukup bagi mereka, bahwasannya Kami telah menurunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur’an) sedang hal itu dibacakan kepada mereka.” (QS al-Ankabut ayat 51) 

Kemudian, mengamati dengan penuh penghayatan akan keindahan langit dan bumi serta segala sesuatu keajaiban ciptaan Allah SWT yang tersebar di dalamnya. Keterangan bahwa cara ini dapat menambahkan keyakinan telah disebutkan dalam firman Allah SWT :

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar.” (QS Fushilat ayat 53)

Lalu menerapkan apa yang diimaninya secara dzahir dan batin dengan penuh kesungguhan dan sesuai kemampuannya. Cara ini juga dapat menambah keyakinan sebagaimana yang disebutkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya :

“Dan orang-orang yang berjihad untuk  (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami”. (QS Al-‘Ankabut ayat 69)

Diantara buah hasil keyakinan adalah, merasa tenang dan percaya pada janji serta jaminan Allah SWT, beribadah kepada-Nya denganpenuh semangat, meninggalkan sesuatu yang membuatnya berpaling dari Allah SWT, serta selalu kembali kepada Allah SWT dalam setiap keadaan dan selalu berupaya sekuat tenaga untuk memperoleh keridhaan Allah SWT.

Jadi, keyakinan adalah inti dari keimanan dan dasar utama seluruh kedudukan mulia. Akhlak terpuji, bahkan amal shaleh pun berasal dari cabang dan hasil buahnya. Sedangkan kuat dan lemahnya, baik dan buruknya akhlak serta amal perbuatan tergantung pada keyakinan.

Dalam hal ini, Sayyidina Lukma al-Hakim ra berkata : “Amal perbuatan tidak dapat direalisasikan kecuali dengan keyakinan dan tidaklah seseorang hamba beramal kecuali sesuai dengan kadar keyakinannya. Begitu juga tidaklah seseorang kurang amalannya melainkan karena keyakinannya berkurang.”

Dalam hal ini, Baginda Rasulullah bersabda :

“Keyakinan adalah keimanan secara keseluruhan”

Keadaan keyakinan orang-orang beriman terbagi menjadi tiga bagian :

Pertama, adalah tingkatan golongan kanan, yaitu mereka yang memiliki keyakinan kuat tetapi masih ada kemungkinan terguncang oleh keraguan jika ada yang menyebabkannya. Tingkatan ini disebut keimanan.

Kedua, adalah tingkatan para muqarabbin, yang mana hati mereka telah dipenuhi dan dikuasai oleh cahaya keimanan, teratanam kuat di dalamnya sehingga tidak ada yang bertentangan dengan keimanannya bahkan tidak terbayangkan keberadaannya sedikitpun. Dalam tingkatan ini, perkara yang ghaib sseakan-akan nampak jelas. Tingkatan ini disebut keyakinan.

Ketiga, adalah tingkatan para nabi dan para pewaris nabi yang sempurna. Mereka  terdiri dari kalangan shiddiqin, yang mana perkara yang ghaib akan nampak jelas dan terang benderang. Tingkatan ini disebut kasyaf.

Masing-masing golongan dalam tingkatan mereka terdapat perbedaan yang jauh sekali. Semuanya bagus, tetapi sebagian lebih baik. Dan itulah karunia Allah SWT yang Dia berikan pada siapapun yang Dia kehendaki dan Allah SWT Maha memberi karunia yang agung.

(diambil dari Kitab ar-Risalatul Mu’awanah)

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on October 26, 2014 in ar-Risalatul Mua'awanah, Kitab

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: