RSS

Habib Ahmad bin Novel bin Jindan

21 Oct

1477523_481398025307493_1061201086_a (1)

Nasab :

Ahmad bin Novel bin Salim bin Ahmad bin Husain bin soleh bin Abdullah bin jindan bin abdullah bin umar bin abdullah bin syaikhon bin Asy Syeikh Abi Bakar bin Salim bin Abdullah bin Abdurahman bin Abdullah bin Asy Syeikh Abdurahman As Seggaf bin Muhammad maula Ad Dawilah bin Ali Maul Ad Dark bin Alwi Al Ghuyyur bin al Ustadz Al A’dzom Al Faqih Al Muqoddam Muhammad bin Ali bin Muhammad sohib al Murbath bin Ali Khola’ Qosam bin Alwi bin Muhammad Maula Showma’ah bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al Muhajir bin Isa Ar Rumi bin Muhammad An Naqib bin Ali Al ‘Uraidhi bin Ja’far As Shodiq bin Muhammad Al Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Al Husain bin Ali bin Abi tholib dan bin Fathimah Az Zahra binti Rasulullah Muhammad Shallallahu alaihi wa alihi wa shohbihi wa sallam.

Tempat &Tanggal lahir :

Jakarta 16 januari 1982

Riwayat pendidikan :

1- SD islam Meranti

2- hingga kelas 2 MTs Darun Najah pertukangan

3- Darul Mushthofa Tarim Hadramaut

Pekerjaan dan kegiatan dakwah :

1- Ketua pengajar Pondok Pesantren Al Fachriyah Al Habib Novel bin Salim bin Jindan

2- Khodim Majelis Rasulullah

3- Penasehat Majelis Silaturahmi Ulama dan Habaib kota Tangerang dskt

4- Anggota Majelis Al wafa bi Ahdillah

5- Kordinator beberapa program-program dakwah

Biografi singkat :

Habib Ahmad bin Novel, adalah putra kedua Habib Novel bin Salim Jindan, adik kandung dari Habib Jindan bin Novel bin Salim bin Jindan. Beliau lahir di Jakarta 12 Januari 1982. Sejak kecil ia dididik ketat di lingkungan agama oleh keluarganya. Pertama dididik oleh sang ayah, yakni Habib Novel bin Salim Jindan yang saat itu tinggal di Bungur, Senen Jakarta Pusat.

Ia mengawali pendidikan dasar di SD Islam Meranti, Kalibaru Timur, Bungur, Jakarta Pusat. Ia juga belajar diniyah pada sebuah madrasah yang diasuh oleh Ustadzah Nur Baiti di Bungur. Saat kelas enam SD atau tepatnya tahun 1992, Habib Novel pindah ke Larangan, Ciledug Tangerang dan mulai mendirikan Ponpes Al-Facriyyah, Ciledug. Habib Ahmad saat itu masih tinggal beberapa bulan bersama keluarganya di Bungur, Jakarta Pusat, karena ujian akhir nasional tinggal sebulan lagi. Lepas lulus sekolah dasar pada tahun 1992, ia melanjutkan ke tingkat Tsanawiyah di Madrasah Tsanawiyah Darunnajah, Petukangan, Jakarta Selatan, tapi hanya menginjak kelas dua.

Sebagaimana kakak atau adik-adiknya ia juga sering diajak abahnya yakni Habib Novel dalam berdakwah. Sang ayah saat itu dikenal sebagai “Singa Podium”, yang gaya pidatonya sangat memikat. Suaranya saat itu masih lantang, menggema dan membuat betah jamaah untuk mendengar orasi- orasinya. “Abah saya, kalau berangkat berdakwah, sering mengajak anak- anaknya…,” ujarnya mengenang. Saat menginjak kelas dua, saat itu umurnya baru 13 tahun, ia melanjutkan belajar ke Hadramaut. Ketika itu Ustadz Abdullah Abdun, Malang mendapat jatah untuk mengirim santri-santri belajar ke Daarul Musthofa, Hadramaut Yaman. Kebetulan, Ustadz Abdullah Abdun mempunyai kedekatan khusus dengan Habib Novel bin Salim bin Jindan, sehingga diikutsertakanlah Habib Ahmad belajar ke Hadramaut. Ia berangkat bersama Ustadz Haikal Al-Amiri (Palu), Ustadz Saleh Abdun (Malang), Ustadz Salim Nur (Malang) dan lain-lain. Beruntung, ia bisa berangkat ke Hadramaut dan berguru dengan seorang pendidik dan orator ulung seperti Habib Umar bin Muhammad Al-Hafidz. Habib Umar adalah sosok pendakwah yang tak kenal lelah dan juga pengasuh Pondok Pesantren Darul Musthafa yang amat terkenal melahirkan dai-dai tangguh hingga saat ini.

Tahun 1990-an Republik Yaman baru merdeka dari penjajahan komunis dan perang saudara. Saat komunis masih berkuasa, lembaga-lembaga pendidikan agama Islam di tutup. Mulai dari pesantren, ribath hingga majelis taklim. Termasuk ribath Tarim, yang saat itu diasuh oleh Habib Hasan bin Abdullah Asy-Syatiri. Bahkan, banyak ulama yang dibunuh. Baru tahun 1990-an Habib Umar mulai mendidik santri-santri yang berdatangan ke ribath yang beliau asuh. Beliau juga gigih berdakwah ke luar pesantren. Habib Umar mempunyai program khusus untuk menghidupkan lagi pesantren-pesantren yang ditutup saat komunis menguasai negeri itu. Sesampainya Habib Ahmad di Tarim sekitar tahun 1994, saat itu Habib Umar bin Hafidz sudah menggunakan masjid Maula Aidid sebagai tempat belajar santri-santri. Sedangkan para santri tinggal di samping bangunan masjid. Pesantren Darul Musthafa pada waktu belum dibangun.

Di Tarim, majelis-majelis ta’lim memang ada dan santri-santri juga menghadirinya. “Kami hadir dalam pengajian-pengajian umum dan belajar di majelis-majelis yang ada di Tarim,” ujarnya. Menurutnya, Habib Umar adalah guru yang istimewa. “Kami semua berhubungan bukan seperti murid dengan guru, tapi seperti bapak dengan anak. Beliau tidak pernah marah secara pribadi,” katanya. Sekalipun santri- santri ada yang nakal, karena masih anak- anak. Ketika mulai berdatangan ke Hadramaut, oleh Habib Umar santri-santri dari Indonesia sering diajak untuk berdakwah.”Kami tidak duduk di Tarim saja. Ada suatu Rubath di kota Syihr yang menjadi perhatian Habib Umar berdakwah. Tujuannya supaya hidup lagi kegiatan keagamaan di daerah tersebut.” Habib Umar juga membangun rubath di kota Hami’. Dengan langkah seperti itu, Habib Umar memancing santri-santri local untuk berpartisipasi, lalu mendidik mereka agar mampu mengelola dakwah secara mandiri di tengah masyarakat. Sekarang di Yaman bermunculan pesantren-pesantren baru.

Komunis hengkang dari Yaman dengan meninggalkan banyak luka. Dan mereka masih meningalkan permasalahan lain, misalnya paham Wahabi dan aliran-aliran lain yang masih marak saat itu. “Saat itu Habib Umar tidak gampang dalam berdakwah. Orang-orang Wahabi banyak memegang senjata api.” Pernah suatu ketika Habib Umar berdakwah dalam suatu acara Maulid di sebuah masjid yang dijaga ketat dengan senjata api oleh orang-orang Wahabi. Akhirnya beliau memilih masjid untuk berdakwah. Setelah Habib Ahmad belajar kurang lebih empat tahun, Habib Umar mengirimnya ke sebuah tempat untuk berdakwah. Program dakwah itu memang lumayan lama sekitar dua bulan. Setiap kelompk terdiri dari delapan orang. “Semua berkesan. Karena selama empat tahun di pesantren kesannya tertutup dari dunia luar. Saat itu saya di kirim ke daerah Dauan, sebuah tempat bersejarah. Di tempat itu terlahir banyak ‘auliya Allah, seperti Habib Muhammad Al- Muhdor, Syaikh Ali Baros, Habib Muhammad bin Thohir Al-Hadad dan lain-lain. Habib Umar mengirimnya untuk berdakwah ke tempat itu selama dua bulan. Itu salah satu pengalaman yang sangat berkesan. Di Dau’an ia belajar mandiri. “Keadaan sangat susah. Di tempat itu, rombongan saya berhadapan dengan orang-orang Wahabi. Yang jelas,  caranya tidak main keras. Kami sampaikan kepada masyarakat. Kalau mau ikut silahkan. Kalau tidak, terserah mereka.” Orang-orang Wahabi dan orang-orang yang mempunyai pemahaman lain dari Ahlussunah wal-Jama’ah lainnya, menurutnya terbagi menjadi dua kelompok.”Ada kelompok yang mengikuti paham tersebut karena tidak mengerti, dan itu mereka mayoritas,” kata Habib Ahmad. Solusi yang ditawarkan untuk menghadapi mereka adalah dengan pendekatan yang lemah lembut.”Sampaikan kepada mereka nasehat dengan lemah lembut dan dalil yang bisa diterima dengan akal mereka. Mereka kebanyakan tidak tahu dalilnya, karena mereka hanya mengikuti pendapat orang lain, dan itu mayoritas. Jadi, berikan dalilnya, insya Allah mereka terima pendapat kita,” katanya. Sedangkan kelompok kedua adalah yang lebih sulit. “Sebagian di antara mereka adalah gembong dari paham ini. Mereka sebenarnya tahu benar dan salah. Tapi permasalahannya, mereka seperti itu didasari bukan karena kebodohan, karena benci dan dengki,” ujarnya.

Setelah belajar sekitar 6 tahun, pada tahun 2000 ia pulang ke Jakarta, kemudian menikah. Begitu pulang, ia langsung mengajar di Ponpes Al-Facriyyah, Tangerang, apalagi saat itu Habib Novel sedang sakit-sakitan. Namun, walau kondisi sang ayah dalam keadaan sakit, Habib Novel tetap mengajak putra-putranya untuk berdakwah ke tempat-tempat yang ada di Jakarta. “Seakan-akan beliau mengatakan pada jama’ah, ‘Inilah penerus dakwah saya’.” Sang ayahanda, Habib Novel bin Salim bin Jindan wafat pada hari Jum’at (3 Juni 2005 / 24 Rabiul Akhir 1926 H, pukul 17.00 WIB dan dimakamkan keesokan harinya di kompleks Ponpes Al-Fachriyyah, Ciledug-Tangerang. Setelah wafatnya sang Ayah, ia banyak mendampingi sang kakak yakni Habib Jindan mengasuh pondok pensantren Al-Fachriyyah Ciledug. Selain mengajar dan berdakwah, ia juga rajin menulis dan karyanya banyak disebarkan ke umat. Beberapa tulisan yang beredar diantaranya adalah Mutiara yang Indah tentang Zakat Fitrah, Amalan bulan Rajab. Namun juga ada beberapa kita yang tidak beredar dengan luas (terbatas) masih dalam bahasa Arab, seperti Manakin Habib Salim bin Ahmad bin Jindan, Sifatul ‘Ulama Akhirah dan lain-lain.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on October 21, 2014 in Biografi

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: