RSS

TERSENYUMLAH!

16 Jul

image

Tertawa yang wajar itu laksana ‘balsem’ bagi kegalauan dan ‘salep’ bagi kesedihan. Pengaruhnya sangat kuat sekali untuk membuat jiwa bergembira dan hati berbahagia. Bahkan, karena itu Abu Darda’ sempat berkata, “Sesungguhnya aku akan tertawa untuk membahagiakan hatiku. Dan Rasulullah sendiri sesekali tertawa hingga tampak gerahamnya. Begitulah orang-orang yang berakal dan mengerti tentang penyakit jiwa serta pengobatannya.”

Tertawa merupakan puncak kegembiraan, titik tertinggi keceriaan, dan ujung rasa suka cita. Namun, yang demikian adalah tertawa yang tidak berlebihan sebagaimana dikatakan dalam pepatah, “Janganlah engkau banyak tertawa, sebab banyak tertawa itu akan mematikan hati.” Yakni, tertawalah sewajarnya saja sebagaimana dikatakan juga dalam sebuah pepatah yang berbunyi, “Senyummu di depan saudaramu adalah sedekah.”  

Bahkan, tertawalah sebagaimana Nabi Sulaiman ketika,

“…ia tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu.” (QS. An- Naml : 19)

Janganlah tertawa sinis dan sombong sebagaimana dilakukan orang-orang kafir,

“…tatkala dia (Musa) datang kepada mereka dengan membawa mukjizat-mukjizat Kami dengan serta merta mereka menertawakannya.” (QS. Az-Zukhruf : 47)

Dan salah satu nikmat Allah yang diberikan kepada penghuni surga adalah tertawa,

“Maka pada hari ini orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir” (QS. Al-Muthaffifin : 34)

Pada dasarnya, islam sendiri dibangun atas dasar prinsip-prinsip keseimbangan dan kemoderatan, baik dalam hal akidah, ibadah, akhlak maupun tingkah laku. Maka dari itu, islam tak mengenal kemuraman yang menakutkan dan tertawa lepas yang tak beraturan. Akan tetapi sebaliknya, islam senantiasa mengajarkan kesungguhan yang penuh wibawa dan ringan langkah yang terarah. Dalam Faidhul Khatir, Ahmad Amin menjelaskan demikian, “Orang yang murah tersenyum dalam menjalani hidup ini bukan saja orang yang paling mampu membahagiakan diri sendiri, tetapi juga orang yang paling mampu berbuat, orang yang paling sanggup memikul tanggung jawab, orang yang paling tangguh menghadapi kesulitan dan memecahkan persoalan, serta orang yang paling dapat menciptakan hal-hal yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.”

Andai saja disuruh memilih antara harta yang banyak dan kedudukan yang tinggi dengan jiwa yang damai dan selalu tersenyum, pastilah aku memilih yang kedua. Sebab, apa artinya harta yang banyak bila wajah selalu cemberut? Apa artinya kedudukan bila jiwa selalu cemas? Apa artinya yang ada di dunia ini, bila perasaan selalu sedih seperti orang yang usai mengantar jenazah kekasihnya? Apa arti kecantikan seorang istri jika selalu cemberut dan hanya membuat rumah tangga menjadi seperti neraka saja? Tentu saja, seorang istri yang tidak terlalu cantik akan seribu kali lebih baik jika dapat menjadikan rumah tangga senantiasa laksana surga yang menyejukkan setiap saat 🙂

Senyuman tidak akan ada harganya bila tidak terbit dari hati yang tulus dan tabiat dasar seorang manusia. Setiap bunga tersenyum, hutan tersenyum, hutan tersenyum, sungai dan laut tersenyum. Langit, bintang gemintang dan burung-burung semuanya tersenyum. Dan manusia, sesuai watak dasarnya adalah makhluk yang suka tersenyum. Itu bila dalam hatinya tidak bercokol penyakit tamak, jahat, dan egoisme yang selalu membuat rona wajah tampak selalu kusut dan cemberut. Adapun bila ketiga hal itu meliputi seseorang, niscaya ia akan menjelma sebagai manusia yang selalu mengingkari keindahan alam semesta. Artinya, orang yang selalu bermuram durja dan pekat jiwanya tak akan pernah melihat keindahan dunia ini sedikitpun. Ia juga tak akan mampu melihat hakekat atau kebenaran dikarenakan kekotoran hatinya. Betapapun, setiap manusia akan melihat dunia ini melalui perbuatan, pikiran dan dorongan hidupnya. Yakni, bila amal perbuatannya baik, pikirannya bersih dan motivasi hidupnya suci, maka kacamata yang akan ia gunakan untuk melihat dunia ini tampak sangat indah mempesona. Namun, bila tidak demikian, maka kacamata yang akan ia gunakan melihat dunia ini adalah kacamata yang akan membuat segala sesuatu di dunia ini tampak serba hitan dan pekat.

Ada jiwa-jiwa yang dapat membuat setiap hal terasa berat dan sengsara. Tapi ada pula jiwa-jiwa yang mampu membuat setiap hal menjadi sumber kebahagiaan. Hidup ini adalah seni bagaimana membuat sesuatu. Dan seni harus dipelajari dan ditekuni. Maka sangatlah baik bila manusia berusaha keras dan penuh kesungguhan mau belajar tentang bagaimana menghasilkan bunga-bunga, semerbak harum wewangian dan kecintaan di dalam hidupnya. Itu lebih baik daripada dia terus menguras tenaga dan waktunya hanya untuk menimbun harta di saku atau gudangnya. Apalah arti hidup ini, bila hanya habis untuk mengumpulkan harta benda dan tak dimanfaatkan sedikitpun untuk meningkatkan kualitas kasih sayang, cinta dan keindahan dalam hidup?

Banyak orang yang tidak mampu melihat indahnya kehidupan ini. Mereka hanya membuka matanya untuk rupiah atau dolar semata. Maka, meskipun berjalan melewati sebuah taman yang rindang, bunga-bunga yang cantik mempesona, air jernih yang memancar deras, burung-burung  yang berkicau riang, mereka sama sekali tidak tertarik dengan semua itu. Di mata dan pikirannya hanya ada uang – berapa yang masuk pada hari itu – saja. Padahal kalau dipikir lebih dalam, sebenarnya ia harus membuat uang itu menjadi sarana yang baik untuk membangun sebuah kehidupan yang bahagia. Tapi sayang, mereka justru membalikkan semuanya, mereka menjual kebahagiaan hidup hanya demi mendapatkan uang, dan bagaimana membeli kebahagiaan hidup dengan uang.

Tidak ada yang membuat jiwa dan wajah menjadi demikian muram selain keputusasaan. Maka, jika kita menginnginkan senyuman, tersenyumlah lebih dahulu dan perangilah keputusasaan. Percayalah, kesempatan itu selalu terbuka, kesuksesan selalu membuka pintunya untuk kita dan  untuk siapa saja. Karena itu, biasakan pikiran kita selalu menatap harapan dan kebaikan di masa yang akan datang. Jika kita meyakini diri kita diciptakan hanya untuk meraih hal-hal yang kecil, maka kita pun hanya akan mendapatkan yang keci-kecil saja dalam hidup ini. Tapi Sebaliknya, bila kita yakin bahwa diri kita diciptakan untuk menggapai hal-hal yang besar, niscaya kita akan memiliki semangat dan tekad yang besar yang akan mampu menghancurkan semua aral dan hambatan. Dengan semangat itu pula kita akan dapat menembus setiap tembok penghalang dan memasuki lapangan kehidupan yang luas untuk suatu tujuan yang mulia. Ini dapat kita saksikan dalam banyak kehidupan nyata. Barangsiapa ikut lomba lari seratus meter misalnya, ia akan merasa capek tatkala telah menyelesaikannya. Lain halnya dengan peserta lomba lari lima ratus meter, ia belum merasa capek tatkala sudah menempuh jarak seratus atau dua ratus meter. Begitulah adanya, jiwa hanya akan memberikan kadar semangat sesuai dengan kadar atau tingkatan sesuatu yang akan dicapai seseorang. Maka, pikirkan setiap tujuan, hendaknya tujuan yang tinggi dan sulit dicapai. Jangan pernah putus asa selama masih dapat mengayunkan kaki untuk menempuh langkah baru setiap harinya. Sebab rasa putus asa, patah semangat, selalu berpikiran negatif terhadap sesuatu, suka mencari-cari aib dan kesalahan orang lain dan besar mulut hanya akan menghambat langkah, menciptakan kemuraman dan menempatkan jiwa di dalam sebuah penjara yang pengap.

Setiap kali melihat kesulitan, jiwa seseorang yang murah senyum justru akan menikmati kesulitan itu dengan memacu diri untuk mengalahkannya. Begitu ia memperlakukan suatu kesulitan, melihatnya lalu tersenyum, menyiasatinya lalu tersenyum dan berusaha mengalahkannya lalu tersenyum. Berbeda dengan jiwa yang selalu risau. Setiap kali menjumpai kesulitan, ia ingin segera meninggalkannya dan melihatnya sebagai sesuatu yang amat sangat besar dan memberatkan dirinya. Dan itulah yang acapkali menyebabkan semangat seseorang menurun dan asanya berkurang.

Kesulitan-kesulitan dalam kehidupan ini merupaka perkara yang nisbi. Yakni, segala sesuatu akan terasa sulit bagi jiwa-jiwa yang kerdil, tapi bagi jiwa yang besar tidak ada istilah kesulitan besar. Jiwa yang besar akan semakin besar karena mampu mengatasi kesulitan-kesulitan itu. Sementara jiwa yang kecil akan semakin sakit, karena selalu menghindar dari kesulitan tersebut. Kesulitan itu ibarat anjing yang siap menggigit, ia akan menggonggong dan mengejar kita bila kita tampak ketakutan ketika melihatnya. Sebaliknya, ia akan membiarkan kita berlalu dihadapannya dengan tenang bila kita tak menghiraukannya atau kita berani memelototinya.

Sungguh, kita sangat butuh pada senyuman, wajah yang selalu berseri, hati yang lapang, akhlak yang menawan, jiwa yang lembut dan pembawaan yang tidak kasar. Dalam salah satu hadis diriwayatkan, “Sesungguhhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian berendah hati, hingga tidak ada salah seorang di antaramu yang berlaku jahat pada yang lain dan tidak ada salah seorang di antaramu yang membanggakan diri atas yang lain.”

 

Maka, nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan..

(QS. Ar Rahman : 13)

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on July 16, 2014 in Kisah Inspirasi

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: